Perbedaan, Perubahan, dan Kesuksesan
Di awal si pembuat film memberitahukan kalau film ini diangkat dari kisah nyata. Ya, saya tahu kisah nyata itu.
Sedahsyat apa sih, ni film? Pertanyaan sinik itu membuat saya tidak ingin melepaskan satu adegan pun saat menonton film Tanda Tanya garapan Hanung Brahmantyo ini. Cerita diawali dengan pembunuhan seorang pastur yang tidak jelas maksudnya apa.
Terdiri dari beberapa tokoh dengan ceritanya masing-masing yang dirajut dalam bahasa ‘beragama bukan berarti harus saling menyakiti’. Ya, memang tidak banyak orang yang menyadari hal ini. Batasan-batasan yang dibuat oleh manusia sebagai atribut di hidupnya sering kali menyakiti orang lain. Membuat tidak adil dalam berpikir hingga saling menghinakan atribut yang lain. Perpecahan di satu agama sendiri pun muncul karena perbedaan ajaran.
Saya paling suka statement tokoh Rika, “Saya bercerai dengan mas Panji bukan berarti saya menghianati pernikahan, dan saya pindah agama bukan berarti saya menghianati tuhan.” Tokoh Rika ini sangat mirip attitude-nya dengan tokoh asli, good job Endhita!
Pencarian. Mencari Tuhan bukan sesuatu yang mudah. Proses ini, tidak semua orang mampu melewatinya dengan baik. Saat manusia berusaha menemukan tuhan dalam hatinya dan tidak juga berhasil, pastinya begitu menyakitkan. Lalu ia terus mencari dan berpindah. Berpindah tata cara bertemu tuhan, berpindah ajaran hidup, sampai benar-benar ia dapatkan kehadirannya.
Manusia bisa berubah. Ya, perubahan. Tidak banyak orang mampu menerima dan menghargai perubahan. Sulit memang, menerima satu saja perubahan di hidup ini. Penghinaan, cemooh, dan segala macam reaksi tidak suka membuat perubahan itu menjadi sangat berat bagi yang menjalankannya. Walaupun sebenarnya mereka yang berubah itu merasa bahagia, mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Berhasil meraih titik terttinggi.
Kesuksesan bukan materi ukurannya. Tiap manusia punya maknanya masing-masing.
Dan saya terganggu dengan visual langit-langit yang bergerak dramatis semacam visualisasi adzan maghrib di televisi. Bukan begitu caranya bikin dramatis mungkin yah hehe…
Film ini sarat nilai, tapi semua disampaikan secuil-secuil. Saya rasa perlu ada film-film model begini ke depannya untuk film Indonesia. Satu-satunya film Indonesia yang bikin saya menangis haru-biru. Please, don’t ask me why… *lagi siapa yang tanya sih?
Buat FPI dan MUI yang melarang film ini, jangan ribut mulu dong… cape ah dengernya. Penonton juga ga sebego itu kali.

Lely Citra replied:
reviewny kurang ah. pendek bener sih.
2011/04/24 at 6:52 am. Permalink.
Gusti Ramli replied:
sampai hari ini belum nonton nih filem… jd no coment… :malu
2011/05/23 at 4:18 am. Permalink.