Tontonan Itu Sekolahan
Sengaja saya mengunduh film-film horor Indonesia dari sebuah situs, ilegal tentu saja. Terakhir saya menonton film horor made in Indonesia berjudul Pocong Kamar Sebelah, dan saya kecewa setelahnya, karena ternyata film itu sama sekali tidak membuat saya ketakutan. Adegan sex di situ lebih membangkitkan libido saya daripada adrenalin saya melihat pocong.
Sejak itu, saya tidak lagi peduli dengan horor Indonesia. Dan kemarin, saya baru diberitahu teman tempat mengunduh film-film lama. Situs penyedia unduhan ilegal itu membuat tertegun. Sederetan film horor, yang dari judulnya saja sudah terbaca tidak layak tonton.
Umm.. tapi saya putuskan mengunduhnya. Memastikan apakah film-film itu masih sama seperti yang ada dalam bayangan saya. Hell ya! Semakin muda tahun dibuatnya semakin berani.
Pernah saya berdiskusi dengan seorang pembuat film tentang horor ini, yah mereka membuat film semacam ini karena film horor cukup diminati dan balik biaya produksi. Penyebaran wilayah Indonesia timur terutama yang banyak peminatnya. Begitulah inti dari perbincangan saya saat itu. Membuat saya sadar betapa miskinnya para pembuat film horor Indonesia sampai tidak berani membuat cerita lain yang lebih layak untuk dilihat. Ketakutan tidak balik modal.
Produser dan sutradara mungkin tidak pernah sadar bahwa posisi mereka adalah pendidik. Sama seperti seorang guru yang mengajar di kelas, bicara tentang rumus Fisika dan menghasilkan ahli-ahli Fisika. Juga, setara dengan seorang ustadz yang sedang mengajarkan hadist-hadist, dengan harapan siswanya akan berakhlak baik setelah mengamalkan ajarannya. Semetara Produser, cuma berpikir cara melipatgandakan uangnya, tanpa peduli ajarannya akan menghasilkan apa.
Saya jengah dengan televisi yang setiap hari memberitakan kebobrokan pemerintahan dan berbagai sinetron yang sama sekali tidak menghibur. Bagi saya memilih tontonan sama dengan memilih sekolah. Dimana saya bersekolah di sana saya akan ditempa.
Kebodohan seorang guru adalah mendidik siswa-siswanya dengan ajaran-ajaran yang ia sudah tahu bahwa itu sesat. Begitulah, Produser dan Sutradara sangat tahu kalau apa yang dibuatnya itu sesat, walaupun mereka berkilah dengan berbagai alasan.
Pak Menteri Kominfo berkoar sibuk menutup situs porno, walaupun nyatanya prostitusi di dunia maya masih merajalela. Artis pemain bokep pun dipenjara entah dengan tujuan apa. Tapi apakah pornografi berhenti? Tidak. Itu cuma basa-basi.
Salahkan globalisasi, salahkan media komunikasi, tapi di sini saya lebih menyalahkan ibu dan bapak guru sutradara yang mengajarkan pornografi.
Siapa tidak ingin kaya? Siapa tidak ingin selalu ber-AC tinggal di Jakarta yang panas ini? Orang sakit jiwa di trotoar pun menginginkannya saya rasa.
Pak dan Bu Guru Produser-Sutradara, berikanlah kami pelajaran yang baik, bukan pelajaran tentang betapa menariknya adegan sex. Tanpa diberitahu, saya dan semua juga sudah tahu bahwa lelaki berdada bidang, payudara, dan adegan sex itu menaikkan libido. Kucing saja, tanpa menonton film porno sudah tau cara berkembang biak seperti apa.
Tidak perlu menyuruh artis-artis itu bertelanjang, memamerkan tubuhnya, kasian mereka, hanya karena butuh uang buat makan mereka mau melakukannya. Sama seperti pengemis di jalanan yang tidak tahu harus bagaimana lagi cara mencari uang untuk menyuap mulutnya dengan makanan.
Ajak saya berpikir, ajak saya tertawa, atau mengernyitkan dahi saat saya menonton karya-karya Anda. Toh, banyak juga film-film tanpa adegan sex yang menarik ribuan penonton. Itu juga hiburan. Hiburan bukan identik dengan sex. Berhentilah menjadikan negara ini negara mesum, hasil didikan film-film mesum.
Maaf saya mengunduh film-film horor ini dengan cara ilegal, karena saya tidak ingin menghargai karya-karya itu dengan harga selembar tiket bioskop.

tony replied:
Alamatnya apa? Ikut download dong.
2011/03/05 at 7:00 am. Permalink.
Lely Citra replied:
emg pendidikan itu mahal yah. tontonan cakep juga mahal
2011/03/09 at 3:50 pm. Permalink.