UP, Berlari Mencapai Mimpi

Dari sederet film garapan Pixar, tidak satupun yang mengecewakan saya. Selalu jempol dua. Keluar studio dengan senyum puas. Begitu juga film Up, saya udah mupeng sejak nonton trailer-nya di www.21cineplex.com.

up copy

Film diputar. Mata kerjap-kerjap karena lampu dimatikan. Bekal makanan saya buka, *bawa nasi bungkus sama es teh manis* Lalu saya: Ouuuuu… film ini lembut sekali. Awan hitam yang kesal karena selalu menciptakan keburukan, dan awan putih yang tersenyum riang karena selalu menciptakan kebaikan. Saya gemas melihat awan-awan itu. Bergelembung-gelembung dan sangat empuk. Saya membayangkan mereka benar-benar hidup, dan… ah sudahlah lupakan imajinasi saya.

Film berlanjut ke cerita inti.

Carl Fredricksen dan Ellie, berteman sejak kecil dan mereka punya sebuah mimpi. Berkunjung ke semua tempat di dalam buku peta milik Ellie dan tinggal di rumah yang berada tepat di samping Paradise Falls, suatu tempat di Afrika Selatan.

Teman masa kecil yang kemudian menjadi pasangan hidup. Semua tergambar hanya dalam adegan-adegan tanpa kata. Satu adegan yang membekas di ingatan saya, saat Carl Fredricksen membaca koran dan Ellie menyulam, mereka duduk bersebelahan dengan aktivitas masing-masing. Melihat muka serius Carl, tangan mungil Ellie menggamit tangan Carl yang yang besar dan terlihat keras. Sederhana, tapi adegan tersebut menyentuh sekali.

Film ini sarat pesan. Mengajarkan bagaimana berkeluarga agar tetap bahagia tanpa harus punya anak. Menolak stigma masyarakat *Indonesia* bahwa menikah tanpa anak adalah bencana. Selama punya tujuan bersama, semua tidak ada masalah. *kok jadi keterusan*

Then, Ellie meninggal. Carl membawa berpetualang rumah yang dibangun bersama Ellie dengan balon-balon ke Paradise Falls. Adegan ini mengajarkan saya, Ciptakanlah mimpi, supaya hidupmu berarti lalu wujudkan mimpimu seberat apapun usaha yang harus dilakukan. Tapi, akhirnya rumah itu harus ditinggalkan, cuma kenangan masa lalu yang tidak harus terus-menerus dibawa. Setelah tujuan Carl bersama Ellie tercapai, punya rumah tepat di pinggir Paradise Falls.

Ah, lagi-lagi saya pulang dengan senyum puas. Nasi bungkus dan es teh manis habis. *loohhh*

2009/10/29. film sini.

No Comments Yet

Be the first to comment!

Leave a Reply

Trackback URI